Pernahkah Anda memilih Rp100.000 sekarang daripada Rp200.000 bulan depan? Itulah Hyperbolic Discounting. Pelajari mengapa kita mendiskon masa depan.
Bayangkan seseorang menawari Anda dua pilihan: menerima Rp1.000.000 hari ini, atau menerima Rp1.500.000 satu bulan dari sekarang. Pilihan mana yang akan Anda ambil? Kebanyakan orang akan memilih Rp1.000.000 hari ini, meskipun secara matematis menunggu satu bulan akan memberi keuntungan 50% lebih besar.
Sekarang bayangkan tawaran yang sedikit berbeda: menerima Rp1.000.000 satu tahun dari sekarang, atau Rp1.500.000 satu tahun satu bulan dari sekarang. Kali ini, kebanyakan orang akan memilih untuk menunggu satu bulan tambahan demi Rp1.500.000.
Fenomena ini memiliki nama dalam psikologi ekonomi: Hyperbolic Discounting, atau diskonto hiperbolik. Ini adalah kecenderungan kita untuk lebih memilih imbalan yang lebih kecil tetapi lebih dekat dengan waktu sekarang, daripada imbalan yang lebih besar tetapi lebih jauh di masa depan. Namun, ketika kedua imbalan sama-sama berada di masa depan, kita lebih rasional dan memilih imbalan yang lebih besar.
Hyperbolic Discounting adalah salah satu bias kognitif yang paling berpengaruh dalam perilaku ekonomi dan pengambilan keputusan. Ini menjelaskan mengapa kita sering membuat pilihan yang bertentangan dengan kepentingan jangka panjang kita: mengapa kita lebih memilih membeli barang konsumsi sekarang daripada menabung untuk pensiun, mengapa kita memilih makanan cepat saji yang enak sekarang daripada makanan sehat yang bermanfaat di masa depan, dan mengapa kita menunda pekerjaan yang penting demi hiburan instan.
Konsep ini telah dipelajari secara luas dalam ekonomi perilaku dan psikologi, terutama oleh para peraih Nobel seperti Daniel Kahneman dan Richard Thaler. Mereka menemukan bahwa Hyperbolic Discounting adalah salah satu penjelasan utama mengapa manusia sering bertindak tidak rasional secara ekonomi.
Apa Itu Hyperbolic Discounting?
Hyperbolic Discounting adalah kecenderungan manusia untuk meremehkan nilai imbalan di masa depan secara tidak proporsional, terutama ketika imbalan tersebut berada dalam jangka waktu dekat. Semakin dekat imbalan dengan waktu sekarang, semakin besar “diskon” yang kita berikan pada imbalan yang lebih besar di masa depan.
Dalam istilah matematis, ini berarti bahwa tingkat diskonto kita tidak konstan. Ketika imbalan berada di masa depan yang jauh, kita mendiskontonya dengan tingkat yang relatif rendah (kita masih menghargainya). Tetapi ketika imbalan mendekati waktu sekarang, tingkat diskonto kita meningkat secara dramatis (kita menjadi sangat tidak sabar).
Ini berbeda dengan “diskonto eksponensial” yang diasumsikan dalam model ekonomi klasik. Dalam model klasik, orang mendiskontokan imbalan masa depan dengan tingkat yang konstan setiap waktu. Hyperbolic Discounting menunjukkan bahwa manusia tidak konsisten seperti itu.
Mengapa Hyperbolic Discounting Terjadi?
Ada beberapa faktor psikologis dan neurologis yang mendasari Hyperbolic Discounting. Memahami faktor-faktor ini adalah langkah pertama untuk mengelolanya.
1. Konflik Antara Sistem Otak
Penelitian ilmu saraf menunjukkan bahwa Hyperbolic Discounting adalah hasil dari konflik antara dua sistem otak yang berbeda:
-
Sistem Limbik: Bagian otak yang lebih primitif dan emosional, yang merespons secara instan terhadap imbalan yang dekat dengan waktu sekarang. Sistem ini mendorong kita untuk mencari kepuasan segera.
-
Korteks Prefrontal: Bagian otak yang lebih rasional dan analitis, yang mampu mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Sistem ini mendorong kita untuk membuat keputusan yang lebih bijaksana.
Ketika imbalan berada di masa depan yang dekat, sistem limbik “mengalahkan” korteks prefrontal, membuat kita memilih imbalan kecil sekarang daripada imbalan besar nanti. Ketika imbalan sama-sama berada di masa depan, sistem limbik tidak terpicu, dan korteks prefrontal dapat membuat keputusan yang lebih rasional.
2. Ketidakpastian Masa Depan
Masa depan terasa tidak pasti. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, bulan depan, atau tahun depan. Ketidakpastian ini membuat kita meremehkan nilai imbalan di masa depan.
Kita mungkin berpikir, “Siapa tahu saya masih hidup bulan depan?” atau “Siapa tahu saya akan benar-benar menerima imbalan itu?” Ketidakpastian ini membuat kita lebih memilih kepastian sekarang daripada janji di masa depan.
3. Kesulitan Membayangkan Masa Depan
Otak kita kesulitan membayangkan masa depan dengan jelas. Kita lebih mudah membayangkan apa yang bisa kita lakukan dengan uang hari ini daripada apa yang bisa kita lakukan dengan uang tahun depan.
Kesulitan membayangkan ini membuat imbalan masa depan terasa “tidak nyata” atau “kurang berharga.” Kita tidak merasakan emosi yang sama terhadap imbalan masa depan seperti terhadap imbalan sekarang.
4. Bias Optimisme
Bias optimisme juga berperan. Kita cenderung percaya bahwa di masa depan, kita akan memiliki lebih banyak uang, lebih banyak waktu, atau lebih banyak kemampuan untuk menangani masalah. Ini membuat kita merasa bahwa menunda sesuatu tidak masalah karena “nanti akan lebih mudah.”
Keyakinan ini sering kali tidak realistis, tetapi tetap mempengaruhi keputusan kita.
5. Self-Control sebagai Sumber Daya Terbatas
Self-control atau kontrol diri adalah sumber daya yang terbatas. Setiap kali kita menahan diri dari godaan, kita menggunakan energi mental. Ketika energi ini habis, kita lebih rentan terhadap Hyperbolic Discounting.
Ini menjelaskan mengapa kita sering membuat keputusan yang buruk di malam hari setelah seharian bekerja keras, atau mengapa kita lebih mudah menyerah pada godaan ketika kita lelah atau stres.
Dampak Negatif Hyperbolic Discounting
Hyperbolic Discounting memiliki konsekuensi yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan kita.
1. Kesulitan Menabung dan Investasi
Hyperbolic Discounting adalah salah satu alasan utama mengapa banyak orang kesulitan menabung untuk masa pensiun. Kita lebih memilih membelanjakan uang sekarang daripada menabung untuk masa depan yang terasa jauh dan tidak pasti.
Ini menjelaskan mengapa program pensiun yang “otomatis” (di mana karyawan secara otomatis didaftarkan dan harus memilih untuk keluar) lebih berhasil daripada program di mana karyawan harus memilih untuk masuk. Dengan menghilangkan kebutuhan untuk membuat keputusan aktif, program otomatis mengatasi Hyperbolic Discounting.
2. Keputusan Kesehatan yang Buruk
Hyperbolic Discounting juga mempengaruhi keputusan kesehatan. Kita lebih memilih makanan yang enak sekarang daripada kesehatan jangka panjang. Kita lebih memilih untuk tidak berolahraga sekarang daripada kebugaran di masa depan. Kita lebih memilih merokok atau minum alkohol sekarang daripada risiko kesehatan di masa depan.
Konsekuensi kesehatan dari keputusan ini sering kali baru terasa bertahun-tahun kemudian, ketika sudah terlambat untuk memperbaikinya.
3. Penundaan Pekerjaan (Prokrastinasi)
Hyperbolic Discounting adalah salah satu penyebab utama prokrastinasi. Kita lebih memilih hiburan atau relaksasi sekarang daripada menyelesaikan pekerjaan yang penting tetapi tidak mendesak.
Kita berpikir, “Saya akan mengerjakannya nanti,” karena “nanti” terasa tidak terlalu menyakitkan daripada “sekarang.” Namun, ketika “nanti” tiba, kita kembali menghadapi pilihan yang sama dan kembali menunda.
4. Keputusan Finansial yang Buruk
Hyperbolic Discounting dapat menyebabkan keputusan finansial yang buruk, seperti mengambil pinjaman dengan bunga tinggi, menggunakan kartu kredit secara berlebihan, atau membeli barang yang tidak perlu dengan cara mencicil.
Dalam semua kasus ini, kita lebih memilih kepuasan sekarang daripada konsekuensi finansial di masa depan.
5. Penyesalan di Kemudian Hari
Keputusan yang didorong oleh Hyperbolic Discounting sering kali menyebabkan penyesalan di kemudian hari. Kita menyesal telah membelanjakan uang yang seharusnya ditabung, menyesal telah menunda pekerjaan yang penting, atau menyesal telah mengabaikan kesehatan kita.
Penyesalan ini dapat menyebabkan stres, depresi, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.
Cara Mengatasi Hyperbolic Discounting
Meskipun Hyperbolic Discounting adalah kecenderungan alami manusia, ada strategi untuk menguranginya.
1. Visualisasikan Masa Depan
Salah satu cara paling efektif untuk mengatasi Hyperbolic Discounting adalah dengan membuat masa depan terasa lebih nyata dan lebih dekat. Bayangkan diri Anda di masa depan—apa yang Anda rasakan, apa yang Anda butuhkan, apa yang Anda inginkan.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang diminta untuk membayangkan diri mereka di masa depan secara detail lebih cenderung membuat keputusan yang bijaksana untuk jangka panjang.
2. Buat Komitmen di Masa Kini
Buat komitmen di masa kini yang akan mengikat perilaku Anda di masa depan. Misalnya, otomatiskan tabungan Anda sehingga uang langsung dipindahkan ke rekening tabungan setiap bulan. Atau, buat janji dengan teman untuk berolahraga bersama, sehingga Anda akan merasa lebih sulit untuk membatalkannya.
Dengan membuat komitmen di masa kini, Anda mengurangi godaan untuk membuat keputusan yang berbeda ketika godaan itu muncul di masa depan.
3. Gunakan Teknik “Jika-Maka”
Teknik “jika-maka” adalah strategi di mana Anda merencanakan respons otomatis terhadap situasi tertentu. Misalnya, “Jika saya merasa ingin membeli barang yang tidak perlu, maka saya akan menunggu 24 jam sebelum membelinya.”
Dengan merencanakan respons otomatis, Anda mengurangi kemungkinan membuat keputusan impulsif yang didorong oleh Hyperbolic Discounting.
4. Pecah Tujuan Besar Menjadi Langkah Kecil
Tujuan besar yang jauh di masa depan terasa abstrak dan sulit untuk dimotivasi. Pecah tujuan tersebut menjadi langkah-langkah kecil yang dapat Anda capai dalam waktu dekat.
Misalnya, alih-alih “menabung Rp100 juta untuk pensiun,” tetapkan tujuan “menabung Rp1 juta bulan ini.” Dengan langkah-langkah kecil, Anda mendapatkan imbalan kepuasan yang lebih dekat dengan waktu sekarang.
5. Sadari Kecenderungan Anda
Langkah pertama untuk mengatasi Hyperbolic Discounting adalah menyadari bahwa Anda rentan terhadapnya. Akui bahwa Anda cenderung lebih memilih imbalan kecil sekarang daripada imbalan besar nanti.
Dengan kesadaran ini, Anda dapat lebih waspada dan lebih termotivasi untuk membuat keputusan yang lebih bijaksana.
6. Kaitkan Konsekuensi Masa Depan dengan Saat Ini
Cobalah untuk mengaitkan konsekuensi masa depan dari keputusan Anda dengan saat ini. Jika Anda memilih untuk tidak menabung, bayangkan bagaimana perasaan Anda di masa pensiun ketika Anda tidak memiliki cukup uang. Jika Anda memilih untuk tidak berolahraga, bayangkan bagaimana perasaan Anda ketika kesehatan Anda memburuk.
Dengan mengaitkan konsekuensi masa depan dengan saat ini, Anda membuat imbalan masa depan terasa lebih “nyata” dan lebih berharga.
Hyperbolic Discounting dalam Konteks yang Lebih Luas
Hyperbolic Discounting memiliki implikasi yang lebih luas dalam bagaimana kita merancang kebijakan publik dan program sosial.
Dalam konteks kebijakan publik, Hyperbolic Discounting menjelaskan mengapa program-program yang memberikan insentif sekarang (seperti potongan pajak atau subsidi) lebih efektif daripada program yang menjanjikan manfaat di masa depan.
Dalam konteks pemasaran, Hyperbolic Discounting adalah alasan mengapa strategi “beli sekarang, bayar nanti” dan “diskon terbatas” sangat efektif. Mereka memanfaatkan kecenderungan kita untuk lebih memilih kepuasan sekarang daripada konsekuensi di masa depan.
Dalam konteks pendidikan, Hyperbolic Discounting menjelaskan mengapa siswa sering menunda belajar sampai ujian sudah dekat. Mereka lebih memilih hiburan sekarang daripada nilai baik di masa depan.
Hubungan dengan Topik Lain
Hyperbolic Discounting memiliki hubungan erat dengan beberapa topik lain yang telah dibahas di situs ini:
-
Gambler’s Fallacy: Keduanya melibatkan distorsi dalam menilai probabilitas dan waktu.
-
Action Bias: Keduanya melibatkan dorongan untuk bertindak sekarang (baik itu bertindak atau memilih imbalan sekarang).
-
Optimism Bias: Optimism Bias membuat kita terlalu percaya pada masa depan, sementara Hyperbolic Discounting membuat kita meremehkan nilai masa depan.
Kesimpulan
Hyperbolic Discounting adalah kecenderungan untuk lebih memilih imbalan kecil sekarang daripada imbalan besar di masa depan, terutama ketika imbalan tersebut berada dalam jangka waktu dekat. Ini adalah bias yang didorong oleh konflik antara sistem limbik dan korteks prefrontal, ketidakpastian masa depan, kesulitan membayangkan masa depan, bias optimisme, dan keterbatasan self-control.
Dampak dari Hyperbolic Discounting bisa signifikan: kesulitan menabung, keputusan kesehatan yang buruk, penundaan pekerjaan, keputusan finansial yang buruk, dan penyesalan di kemudian hari. Namun, dengan kesadaran dan strategi yang tepat, kita dapat menguranginya.
Kita dapat memvisualisasikan masa depan, membuat komitmen di masa kini, menggunakan teknik “jika-maka”, memecah tujuan besar menjadi langkah kecil, menyadari kecenderungan kita, dan mengaitkan konsekuensi masa depan dengan saat ini.
Pada akhirnya, kemampuan untuk menahan godaan sekarang demi imbalan yang lebih besar di masa depan adalah tanda kedewasaan dan kebijaksanaan. Ini adalah kemampuan yang memungkinkan kita untuk membangun masa depan yang lebih baik, mencapai tujuan jangka panjang, dan menjalani kehidupan yang lebih memuaskan. Ingatlah, kepuasan instan sering kali adalah musuh dari kebahagiaan jangka panjang. Investasi terbaik yang dapat Anda lakukan adalah investasi pada masa depan Anda sendiri.




